Masa pandemi membuat kita bukan hanya lebih banyak dirumah, tapi juga menghabiskan waktu lebih banyak dengan gadget kita.  Ini berarti Screen Time kita juga bertambah durasinya. Kita pasti sudah sering mendengar jika hal ini akan mengganggu kesehatan mata. Tapi, benarkah Pancaran sinar biru yang terpancar dari perangkat kita juga akan memberi dampak buruk bagi kulit wajah?

Beberapa bulan terakhir ini banyak dari kita yang menjalani rata-rata waktu Screen Time jauh lebih lama dari sebelumnya. Screen Time adalah istilah jumlah waktu yang digunakan untuk berinteraksi dengan ponsel, laptop, tablet, televisi, hingga video game.

Perangkat gadget yang belakangan mengisi keseharian kita ini memancarkan sinar biru dari layarnya. Sinar Biru atau Blue Light termasuk dalam golongan HEV atau High Energy Visible Light. Penjelasan singkatnya adalah sinar yang tampak dengan panjang gelombang pendek.

Saat kita berpikir tentang efek berbahaya dari cahaya, kita biasanya befikir tentang sinar ultraviolet (UV) yang tidak terlihat.  Berbeda dengan Blue Light atau  Sinar Biru, sebenarnya kita mungkin bisa melihatnya sebagai cahaya putih dengan warna sejuk.  Seperti saat kita melihat bola lampu LED, kita sepertinya melihat warna putih atau mungkin  sama sekali tidak menyadari warna biru. Itu karena sumber cahaya dalam ruangan memancarkan berbagai panjang gelombang yang kombinasinya dapat menghasilkan warna yang dapat kita lihat secara visual.

Nah, Screen Time yang meningkat karena masa pandemi ini ternyata dapat memicu penuaan dini dan hiperpegmentasi kulit. Akan bertambah buruk apabila jadwal tidur kamu berantakan. Meskipun sinar biru juga dilepaskan dari matahari, beberapa penelitian menunjukkan bahwa Sinar Biru dapat menembus kulit lebih dalam daripada sinar UV.

Walaupun masih terus dilakukan penelitian lebih dalam mengenai hal ini, Dr Nazanin Saedi MD FAAD, dermatologis di Universitas Thomas Jefferson mencoba menjelaskan efek sinar biru pada kulit. Ketika kulit terkena sinar biru akan memicu pembentukan spesies oksigen reaktif yang menyebabkan kerusakan DNA dan peradangan. Akhirnya, bisa memecah kolagen yang sehat dan menyebabkan penuaan kulit seperti munculnya keriput.

Dr. Margo Weishar MD, pendiri dan dokter kulit di Springhouse Derm juga menambahkan stres oksidatif yang dialami kulit kita karena peningkatan paparan sinar biru dapat menyebabkan perubahan warna kulit. Bukan hanya itu, paparannya juga bisa memicu hiperpigmentasi.

Jadi apa yang dapat dilakukan untuk melindungi kulit kita dari efek screen time yang berlebihan? Kedua pakar itu menganjurkan penggunaan tabir surya, bahkan saat bekerja di dalam ruangan.  Dr. Saedi merekomendasikan tabir surya yang memiliki perlindungan spektrum luas untuk memblokir sinar UVA dan UVB, tetapi juga melindungi dari sinar HEV.

Dr. Weishar juga merekomendasikan, orang yang memiliki gangguan Melasma sebaiknya memakai tabir surya yang mengandung oksida besi atau iron oxide. Melasma adalah masalah kulit yang mengakibatkan bercak kecoklatan pada wajah. Hal ini dianjurkan karena dapat mencegah bintik-bintik coklat memburuk akibat paparan sinar biru.

Hal yang paling sederhana adalah yang dapat dilakukan adalah membatasi jumlah sinar biru yang dipancarkan dari perangkatkita. Produk Apple memiliki “Night Shift” atau “Moda Malam” yang membuat warna layar tidak terlalu menyilaukan. Tukar bohlam LED standar dirumah dengan versi yang memancarkan lebih sedikit sinar biru.

Mulai sekarang sebaiknya jangan tinggalkan sunscreen walaupun hanya beraktifitas didalam rumah dan selalu ingat  “aturan 20-20-20”. Istirahatkan mata setiap 20 menit dengan mengalihkan mata sejauh 20 kaki atau sekitar 6 meter selama 20 detik. Biasakan melakukan ini dalam keseharianmu untuk membantu mencegah ketegangan mata. Berikan waktu untuk tubuh kita untuk beristirahat disela-sela jadwal meeting online yang memenuhi hari-harimu belakangan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *